This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 06 April 2012

Cacing dalam kubangan

Aku tidak pernah mengira, jalan yang sudah aku rancang dengan sungguh-sungguh dan kebulatan tekad yang penuh harus berhadapan dengan suatu masalah yg tidak terprediksi kehadirannya. Aq menyukai tantangan. Dan aq adalah manusia yang cukup menyadari bahwa hubungan antar manusia adalah puncak dari segala kerumitan. Kerumitan yang pada awalnya sangat kuhindari, dan okelah, sepertinya aq harus ahli.

Aq keberatan jika dikatakan sebagai seorang melankolis yg begitu rapuhnya akan sesuatu. Aq terbiasa menyebut diriku korelis kuat yang teguh dan manut dengan semua mimpi yang telah kusepakati sendiri. Tapi tempat ini harus menjadi tempat penyiksaan batinku. Menamparku berkali-kali dengan perendahan ideologi yg begitu kusembah bagai seorang raja... Ah, sepertinya aku mengalami disfungsi otak sehingga aq, dengan waktu yang cukup lama, berkutat dalam kubangan kotor yang kuciptakan sendiri. Gila.

dan akhirnya sedikit kewarasan membuatku bangkit. Mengingat surga yang kubuat sendiri untuk hidup, dan mengingat, aku masih cacing yang berkutat di tanah yang sama. mengubur diri hidup-hidup.

Kewarasanku mengacu pada kesenanganku untuk tetap belajar. Kadang belajar benar, dan harus, kadang belajar salah. dan menerima ideologi-ideologi dari manusia lain sebagai warna dari kitab hidupku yang mungkin masih abu-abu.

Kadang, diam dan sedikit bicara, bisa sedikit membantu. Setelah itu, kubiarkan saja. Hancur.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kamis, 09 Februari 2012

The Need for Reforming in Education

Education has an crucial part in Indonesia. Why I said so? It creates people that can be a hero, or even scum of society. Let take a look at Indonesia's society, how many beggars can we find? How many killers, robbers and their friend? It's so many, right? It proves that our education program still get trouble. There are several reasons why we need to reform our education curriculum and what it will impact if we still stand in our position today.

First reason, why Indonesia should change the point of view of the education, it could kill the students' creativity. Students here cannot choose their subjects. The government, by the curriculum, has already prepared it for them. During twelve years of their study, they do not have a right to choose what their interests are. It makes their perception stuck in the box. Moreover, it still uses teacher centered. Teacher is the subject in teaching-learning activity, and other hand the students are just the object that should be filled by system thought. Wearing uniform also the one which jails the students' creativity. They could not express their self cause their right showing their own characters curbed by the school rules. However, it will have a bad effect in their psychology point of view.

Making students stress is the second reason reforming education system. Could you imagine, students have to face twenty subjects every week! Twenty subjects which they should master all. However, the pupils also get a lot of homework. It seems that school regulation does not want to leave them even a minute. They will not have time to do something they like, build their hobbies, or just spend time not doing anything to refresh their mind. It is not a surprise, so easy we find suicide students. Based of a cup of problems, they kill their selves. It prove that our education create of high rate stress students.

It is the government responsible to take part of these problems. They should reform to solve the society problems caused by unstable system. I believe that we still have chance to create a better life by creating better people in education.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Jumat, 13 Januari 2012

Di sebuah persimpangan

Yah, itulah saya sekarang. Saya ada disebuah persimpangan yang begitu menyiksa batin saya. Seolah menelan buah simalakama, dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak mati. Sayangnya, saya tidak bisa memberikan buah itu pada monyet, dan membiarkan orang tuanya mati (jayus banget), sehingga saya harus menelan pahitnya sendiri.

Hey, ini tidak seekstrim akibat yang ditimbulkan buah simalakama. Orang tua saya tidak ada hubungannya dengan simpang yang harus saya pilih, dan semoga Allah memanjangkan umur mereka, Amin. Ini lebih mengacu pada sisi batin saya. Simpang satunya memuaskan dahaga, simpang satunya membuat saya kenyang. Aaaah.. Segalau itukah saya??

Sebenarnya jalan manapun yang saya ambil akan memberikan kebaikan pada saya, hanya kadang satu kebaikan menyimpan suatu efek yg tidak bisa dinikmati secepat saya memilih. Memerlukan proses yang mungkin tidak sebentar. Lalu, sanggupkah mereka menunggu? Sanggupkah saya bertahan???

Melepaskan pekerjaan untuk alasan pengembangan diri entah kenapa terasa sangat egois ditelinga saya. Betapapun saya mencintai murid saya, tapi entah kenapa keputusan untuk pergi terasa semakin bulat. Saya rasanya sudah berada di titik kulminasi kejenuhan tingkat tinggi. Eits, bukan jenuh mengajar atau bosan bertemu murid saya, tapi kejenuhan saya mengacu pada eksistensi diri yang semakin menurun. Ibarat sumur, air di badan saya sudah kering. Diri ini, ingin memberikan manfaat, tp apa daya, tenaga hampir habis.

Lalu apa yg bisa saya lakukan???

Inilah saya sekarang. Akhirnya simpang itupun saya tapaki. Pelan-pelan meninggalkan jalan lainnya dibelakang. Tp entahlah, sungguh berat kaki ini melangkah. Seakan berjalan ditumpukan paku yg siap mengoyak kulit. Perih.

Tapi saya sudah teguh. Karena saya janjikan diri ini akan kembali dengan versi yang lebih canggih, lebih hebat, lebih kuat. Berjanji akan mencari mata air baru untuk mengisi sumur yang hampir mati. Berjanji dalam hati bahwa kepergian ini tidaklah sia-sia...

Dan ketika ragu membuncah, saya hanya bisa menepisnya dengan Bismillah...

Semoga Allah meridhoi..

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Senin, 09 Januari 2012

Mengaudit Diri

Malam ini mata saya seakan ragu untuk memejamkan mata. Masih saja terbuka lebar meski badan rasanya remuk redam. Ah, pikiran saya tidak hentinya meraba, mencerna, mengurai satu-satu puzzle hidup saya yg mulai tercerai berai.

Tahun lalu adalah kumpulan dr sejuta harapan. Dan tahun ini adalah batas dr sebuah kebimbangan atas sebuah penantian. Masa depan.

Masa depan yang saya bicarakan disini bukan tentang apa yg saya dapatkan nanti. Tapi akan jadi apa saya nanti. Tentu, penantian tidak melupakan sebuah proses. Lika-liku hidup yang harus dilewati setiap nyawa. Ah, terlalu absurb saya sampaikan disini.

Besok, entah kenapa, saya merasa adalah awal dan sebuah akhir bagi sebuah penantian yang panjang. Mungkin masanya akan sebentar, tapi prosesnya akan memakan waktu yang belum saya yakin ujungnya. Bahkan ragu, masa itu akan berujung atau tidak. Entahlah...

Sedikit takut, saya berusaha memberanikan diri mengimajinasikan segala hal yang ingin dan akan saya lakukan. Hey, jangan meremehkan ketakutan saya, kadang sisi pengecut dlm diri saya membuat saya meragukan kempuan saya, bahkan kemampuan untuk bermimpi.

Di kotak yg penuh manusia ini, saya menjelajahi setiap detik yg terlewati. Mendeskribsikan satu-satu kemudian mulai menelaah, tentang suatu keanekaragaman nyata yang terbungkus kabut tak kasat mata. Tak mudah menemukannya dan menunjukkannya pada pikiran yg semakin rentan. Memaksa bawah sadar untuk menerima dan membawanya tinggal.

Lalu saya putuskan untuk berhenti sejenak berdiplomasi pada diri sendiri. Memutuskan berdamai dengan halusinasi. Masa depan hanyalah sebuah opsi yg sejujurnya tak akan pernah datang. Karena ia tak dapat dijabarkan awal dan ujungnya. Hanya bisa dijelajah dengan kekuatan mimpi dan sedikit optimasi.

Maka saya disini mulai meneguhkan diri. Untuk menerima diri hari ini, untuk belajar saat ini, untuk berkembang detik ini, untuk menjadi pribadi yg lebih baik setiap hari.

Karena saya menyadari, tidak akan ada masa depan tanpa adanya masa sekarang. Masa depan adalah keputusan-keputusan yang saya ambil saat ini. Masa depan adalah hari ini.

Maka saya biarkan mimpi-mimpi saya berkelana, dan saya izinkan alam mengeliminasi setiap mimpi yang saya bangun. Karena setiap satu mimpi mati, hari baru akan menciptakan mimpi yg lain.

Mari saya perjelas tentang keabu-abuan saya malam ini. Saya akan berhenti merisaukan apa yang akan terjadi dengan saya di masa depan dan cukup sedikit beimajinasi diimbangi dengan melakukan apa yg terbaik yang bisa saya lakukan.

Sepertinya itu cukup membuat hati saya tenang. Dan membuat mata saya semakin berat.

Night all.. ^^

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Jumat, 16 Desember 2011

Aku dibunuh waktu

Aku dibunuh waktu yang mengeliat tanpa kusadari
Aku menemukan diriku terdiam meratapi setiap detik yang terbuang
Berapa rupiah yang kukeluarkan bahkan tak bisa membuatnya berpaling
Raungan kerasku pun tak bisa membuatnya lebih lambat

Tersungkur aku kini
Merasakan pedangnya yang menusuk-nusuk
Berlomba dengan jantungku yang berdetak semakin cepat.

Hampir mati.


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Rabu, 07 Desember 2011

A Journey Part 3

Petualangan saya di ibu kota berlanjut ketika teman saya, Wildan, mengajak saya keliling Jakarta. Kami membuat janji di suatu tempat yang masih asing buat saja. Setelah 2 kali naik angkot dari rumah saudara tempat saya bermalam, dan melewati insiden kesasar, akhirnya saya berhasil juga sampai di tempat dan bertemu beliau.

Saya diajaknya ke Kota Tua. Setelah berdesak-desakkan menumpang KRL menuju stasiun Kota, sampailah kami di tempat yang di maksud. Di kota tua terdapat beberapa musium yang sangat menarik. Musium Sejarah Fatahillah, Musium Wayang, Musium Bank Indonesia dan Musium Bank Mandiri.

Di Musium Sejarah ini, banyak sekali patung-patung, foto ataupun peninggalan-peninggalan sejarah yang lain, seperti guci keramik dari dinasti "anu" dan tempat tidurnya jendral "anu" (maaf gak inget, short memory term :p)

Saya sempat terpikir, andaikan murid saya bisa saya ajak kasini, wah, pasti mereka akan senang sekali. Tapi saya bertekad akan mengajak mereka suatu saat nanti, biar mereka tau seperti apa musium itu (berani bertaruh, banyak atau mungkin semua dari murid saya belum pernah menginjakkan kaki di musium)

Musium Fatahillah ini bagi saya masih perlu di kemas lagi. Menurut teman saya sih memang bangunannya bekas kantor/rumah orang penting jaman dulu (saya lupa namanya), jadi ya memang tidak dibangun khusus untuk dijadikan musium. Saya sempat bingung karena ruangannya tidak memudahkan pengunjung untuk melihat secara runtut. Kalo tidak ada wildan, pasti saya sudah teriak-teriak minta tolong karena tidak menemukan jalan keluar (ahay, lebay lagi). Oh ya, karcis masuknya murah, cuma 1000 rupiah untuk mahasiswa dengan menunjukkan KTM. Istilah wildan, "inilah kesaktian menjadi mahasiswa", hahaha

Beranjak dari Musium Fatahillah, saya menuju ke Musium Wayang. Letaknya tidak terlalu jauh dari musium pertama, masih satu komplek. Di musium wayang, kekuatan KTM masih berlaku. 1000 pun sudah bisa masuk, :D.

Bangunan di musium wayang lebih modern dari musium fatahillah. Keren banget dah pokoknya. Banyak sekali wayang yang dipertontonkan disana. Mulai dari arjuna, unyil-usro sampai wayang-wayang dari belahan bumi lain. Kereeeeeen...! Tempatnya juga asyik, ada jalurnya. Jadi kita bisa melihat topeng/wayang satu-satu tanpa takut kesasar. Hehe

Musium ketiga yang kami kunjungi adalah Musium Bank Indonesia. Disini kekuatan KTM Wildan tidak berlaku, karena memang tidak berbayar alias gratiss..tis..tissss..!!

Musium ketiga sungguh sangat luaaaarrr biasa. Layar LCD memenuhi beberapa sudut ruangan. Ada efek audio dan visual. Patung-patung yang menggambarkan sejarah uang dari awalpun disuguhkan. Aaah, susah mendeskripsikannya. Pokoknya kereeeen banget daaaah (tuh kan, saya ketahuan udiknya :p). Masuk di Musium Bank Indonesia ini isinya uang doank, makanya saya segeeeer banget berada disana... Hehehe

Wah, sebetulnya saya tidak menyangka bahwa masuk musium pun bisa menjadi sebuah wisata yang menarik. Mengetahui bahwa semua halpun dimulai dari sesuatu yang sederhana. Tapi dari kesederhanaan itulah muncul ide-ide yang memodernisasikan kehidupan manusia sehingga lebih mudah.

Kadang banyak orang melupakan sebuah proses. Mereka hanya mau tau hasilnya. Padahal menurut saya, hasil tidaklah penting, proses yang lebih penting. Seperti kemerdekaan Indonesia yang melewati banyak pristiwa, seperti wayang yang memiliki jalan cerita masing-masing, ataupun kekuatan uang ygn memiliki nilai pasang dan surut, saya tidak akan kalah. Saya tidak akan berhenti berproses. Kali ini saya mohon ijin untuk meminjam istilah saudara Vanster yang mengomentari posting saya sebelumnya, "METAMORFOSA"

:)
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!