This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label My Feeling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Feeling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 29 November 2011

Ragu

Aku melihatmu tak lagi biru
Entah kornea yg salah
Atau aku baru menyadari

:bahwa birumu palsu


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Sabtu, 19 November 2011

Multiple Intelligent, Sekolahnya Manusia

Seminggu yang lalu, saya menginap di kost seorang teman di kota Surabaya. Beliau adalah seorang mahasiswa yang menempuh S2 jurusan Psikologi. Ketika memasuki kamarnya, mata saya berbinar. Beliau memiliki banyak sekali buku yang menurut saya, sangat menarik. Waktu sampai di kostnya untuk beristirahat, waktu sudah menunjukkan pukul 1.30 dini hari. Maklum, kami baru menghadiri sebuah acara gagasan Cak Nun di Gedung Kebudayaan Cak Durasim.

Meski mata sudah berat, saya tak bisa menyembunyikan hasrat saya untuk mengamati satu-satu buku beliau. Ada satu yang paling menarik dari semua buku yang menurut saya layak dibaca, karangan Munif Chotib, Sekolahnya Manusia. Wow, saya sangat penasaran dengan isi buku tersebut. Sebagai seorang guru, Judul yang terpampang menggelitik saya.

Saya sangat takjub membaca buku ini. Dengan waktu yg terbatas, saya menemukan banyak hal. Ide "Sekolahnya Manusia" dengan menggunakan Multiple Intelligent sangat luar biasa menurut saya. Saat masih duduk dibangku kuliah, saya pernah juga mendapat mata kuliah ini. Bagaimana Multiple Intelligent mempengaruhi cara belajar siswa. Tapi waktu itu rasanya kurang membekas sehingga saya lewati begitu saja.

Buku ini menjawab keraguan saya selama ini dengan kurikulum di Indonesia. Multiple Intelligent adalah sebuah pendekatan yang menghargai setiap perbedaan karakter pada siswa. Bahwa siswapun memiliki caranya sendiri dalam belajar. Tapi yang sering kita lihat, sistem pendidikan kita memaksa siswa untuk mengikuti cara belajar dan berpikir guru. Inilah yang membuat ilmu mereka hanya bertahan sebentar. Sekarang tahu, besok sudah tidak tahu.

Manusia sendiri sangat unik. Tidak ada didunia ini orang yang memiliki karakter yang sama persis, bahkan jika mereka adalah kembar identik. Setiap karakter memiliki cara yang juga berbeda dalam menyerap apa yang disekitarnya, termasuk cara belajar. Ada yang kecenderungan pada musik, linguistik, intrapersonal, interpersonal, audio-visual, dll. Tidak ada satu karakter yang paling bagus, semuanya tepat untuk masing-masing orang.

Ah, saya rasa karena itulah Munif Chatib memberi judul "Sekolahnya Manusia". Karena menurut beliau, banyak sekolah yang beredar saat ini, TIDAK memanusiakan muridnya. Murid hanya sebagai Objek Ajar, bukan Subjek Ajar. Murid harus mengikuti cara belajar guru, bukan guru yang harus mengikuti cara belajar murid. Mungkin anda yang berprofesi sebagai guru tidak setuju dengan pendapat saya. Bagaimana mungkin mengikuti cara belajar murid yg beragam, sedangkan murid dan guru kadang berbanding 40:1. Yah, begitulah! Siapa suruh anda menjadi guru, jika anda tidak mau direpotkan oleh murid anda?

Memang tidak mudah. Saya pun mengalami banyak kesulitan. Karena hal ini memang tidak gampang jika hanya dilakukan sendirian. Perlu campur tangan sekolah. Perlu sebuah management yang apik yang bisa mengkolaborasi semua bagian-bagian yang ada didalamnya. Entah itu guru, murid ataupun kepala sekolah. Semuanya harus mampu bekerja sama untuk menciptakan manusia-manusia baru yang berkembang, berdaya guna. Bukan manusia-manusia berotak robot yang hanya bergerak jika diperintah.

Meskipun rasanya masih mustahil untuk kita menciptakan situasi tersebut disekolah kita, saya tetap optimis atas keberadaan sekolahnya manusia. Sekolah yang peduli terhadap perkembangan murid, sekolah yang meciptakan impian-impian, bukan malah mematikannya. Sekolah yang menghargai setiap usaha muridnya, sekecil apapun. Sekolah yang dinanti muridnya. Sekolah yang memanusiakan manusia.

Perubahan itu, harus kita yang memulai. Tidak hanya berani mengutuk, tapi juga berani berbuat. Kalau Sekolah yang ada tidak mampu, atau lebih tepatnya tidak mau membuatnya, saya yang akan menciptakannya.

Yeah!!

Sabtu, 12 November 2011

Melihat Lebih Dekat

Saya mulai frustasi dengan sistem pendidikan yang diterapkan pemerintah Indonesia. Benar kata seorang guru senior yang saya ikuti dg akun twitter @gurukreatif. Beliau menyampaikan jika para guru dikumpulkan dan diberi hak suara untuk menyusun kurikulum, pasti hasilnya tidak carut marut seperti ini.

Saat masih berstatus mahasiswa, saya begitu kagum dengan kurikulum Indonesia. Teringat ketika salah seorang dosen saya memberi mata kuliah Crurriculum and Development. Begitu banyak yang harus dikuasai dan dipersiapkan seorang guru. Mulai dari standart isi, KTSP, RPP, prota, promes dan banyak lagi yang lain. Idealisme saya yang sedang tinggi-tingginya menyerap mentah-mentah informasi tersebut. Berpikir dengan mempersiapkan hal-hal diatas saja bisa disebut sebagai guru profesional.

Nyatanya, SAYA SALAH!

Setelah berkecimpung lebih kurang satu tahun mengajar mata pelajaran bahasa Inggris di sebuah Aliyah di kabupaten pasuruan, saya mulai menemukan ketidak cocokan idealisme saya dengan kenyataan di lapangan. Apalah fungsi KD yang mengharuskan siswa menguasai (anggap saja) level 11, jika pada kenyataannya mereka masih berada di level 3. Apa fungsi Prota dan Promes yang harus mencocokkan dengan kurikulum pemerintah jika hanya membuat tidak hanya siswanya yang stress, bahkan juga gurunya?

Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk berkhianat pada kurikulum. Entah menurut anda saya benar atau salah, tapi yang saya lihat, inilah bagian dari keputus asaan saya menghadapi pemerkosaan pemerintah terhadap generasi bangsa ini. Saya tidak pernah mengajarkan murid saya berlomba-lomba menjadi yang terbaik diantara teman-temannya di pelajaran saya. Mereka hanya harus menjadi yang terbaik bagi diri mereka sendiri. Saya menegaskan berulang-ulang bahwa saya (dengan sebenar-benarnya) tidak membutuhkan nilai mereka. Yang saya minta hanya mereka berusaha.

Tak jarang saya menemukan murid yg kurang antusias dalam pelajaran saya. Seberapa keras saya berusaha, mereka sepertinya masih sulit dalam menerima. Inilah yang harus diterima para guru di Indonesia. Tidak harus setiap murid pintar disegala jenis mata pelajaran. Kita sendiri sebagai seorang guru, kadang kuat disatu pelajaran dan lemah di yg lainnya. Kenapa kita harus memaksa murid kita melakukan hal yang tidak sanggup kita lakukan?? Ya, kembali lagi, TUNTUTAN KURIKULUM.

Teringat salah seorang murid saya yang bertanya, "Miss, kenapa saya harus belajar Fisika, ketika saya ingin menjadi seorang guru Bahasa Indonesia? Atau "Miss, kenapa saya harus belajar Akuntasi saat saya bercita-cita menjadi seorang, dokter?? Dalam hati saya berpikir, saat sekarang saya menjadi seorang guru bahasa Inggris, ilmu-ilmu eksak seperti gaya newton dalam fisika atau ilmu asam dan basa di kimia, hampir tak saya lihat pengaruhnya dalam hidup saya. Lalu untuk apa? Untuk apa siswa harus belajar 16mata pelajaran dan dituntut untuk menguasai segalanya jika nanti hidup mereka akan mengkrucut ke arah yang mereka suka?

Saya dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki, hanya mampu menjawab. "Inilah bagian proses dalam kehidupan. Kalian akan banyak menjumpai hal2 yang tidak kalian suka dan kalian masih harus melakukannya. Anggap setiap pelajaran yang kalian kurang pahami sebagai tantangan. Esok, ketika kalian benar2 lepas dari bangku sekolah, dan kalian harus berhadapan dengan persoalan yg sama, kalian sudah terbiasa menghadapinya".

Sebagian dari anda mungkin tertawa mendengar jawaban saya. Sungguh sangat klise.

Terus terang saja, saya banyak menutup buku saat saya mengajar, apalagi untuk kelas tahun pertama yang saya ajar. Ketika kurikulum mengharuskan murid saya untuk menguasai Passive Voice, Conditional Sentence, Direct-Indirect Speech dan grammer tingkat tinggi lainnya, saya masih harus berjibaku dengan murid saya yang masih belum tahu apa itu noun, verb, adjective dan part of speech yang lain. Aaargh.. Entah saya harus menyalahkan siapa?dan yang paling sulit, harus memulai dari mana?

Dan akhirnya saya berkejar-kejaran dengan kurikulum. Tapi saya mulai tak peduli. Apalah guna ketuntasan kurikulum jika murid saya tidak bs merubah paradigmanya tentang bidang studi yang saya ajar? Apalah artinya kurikulum jika mereka tidak berproses? Apalah artinya jika mereka tidak berkembang? Karena menurut saya, proses berkembang lebih penting dr proses mendapatkan nilai.

Mungkin para beliau yang mencetak kurikulum begitu terobsesi dengan istilah, "murid adalah kertas yang kosong", sehingga beliau yang terhormat merasa harus menjejalkan semua ilmu kepada generasi bangsa hingga ketas kosong berubah menjadi kertas penuh warna. Ya, begitulah pendidikan tradisional. Sayangnya, murid-murid yang kita hadapi bukanlah selembar kertas. Tapi sebuah jiwa yang mempunyai rasa, asa dan cita-cita yang berbeda. Merubah paradigma mewarnai, dengan memunculkan warna yang sebenarnya, harus bisa kita lakukan. Tugas seorang pendidik bukan lagi hanya mentransfer ilmu, apalagi sesuai dengan hirarki yang dibentuk oleh pemerintah. Pendidik dengan dibantu oleh pemerintah harusnya bisa menjadi fasilitator dan inpirator bagi para penerus bangsa untuk memunculkan apa warna mereka sesungguhnya. Dan generalisasi dan standarisasi pada kurikulum kita saat ini, nyatanya banyak berhasil mencetak genius2 karbitan yang mempunyai nilai sempurna disekolah dan kesulitan mencari kerja.

Saya tahu, tidak semua orang sependapat dengan cara berpikir saya, ataupun cara saya dalam mendidik siswa saya. Sayapun tahu, saya tidak akan merubah apapun jika saya hanya diam dan mengutuk pemerintah atas keputusasaan saya. Untuk itu, saya mengajak para pembaca semua untuk sedikit meluangkan waktu untuk melihat dengan jernih potensi-potensi yg ada pada diri siswa. Hentikan pelabelan yang buruk pada mereka hanya karena ketidakmampuan kita melihat mereka lebih dekat. Karena kita semua tidak tahu, siapa yang sedang kita ajar. Berhati-hatilah, karena mungkin orang yang kita sebut "Bodoh", "Pembangkang", dan "Pemalas", akan menjadi pemimpin kita di masa depan.

Wassalam
-nina-
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Rabu, 09 November 2011

B.i.n.g.u.n.g

Jika satu boleh dipilih tanpa meninggalkan dua, bolehkah?
Bila dua diambil tanpa melupakan satu, masih bolehkah?
Jika satu dan dua dipilih dan diambil bersama-sama, tetap bolehkah?

Sebut aku egois.
.
.
.
Itu benar.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Catatan di suatu pagi

Aku mengurai satu2 tumpukan jerami.
Mencari sebuah jarum yg tersembunyi.
Entah dimana.
Bahkan entah, memang ada atau tidak. Semua serba tidak pasti.

Tapi aku tidak mau berhenti.
Orang mencemooh, aq tak peduli.
Biarkan aku melakukakan dengan caraku sendiri
Karena setidaknya, aku tidak diam dan bersembunyi

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Selasa, 08 November 2011

Sepenggal Mimpi yang Terpotong

Saya benar-benar merasa di dholimi kemarin. Ada seorang rekan kerja yg tidak hanya meremehkan saya, tapi juga meremehkan mimpi2 saja. Dy memandang rendah mimpi saja. Berdasar pada dogma agama, dia menjustifikasi bahwa saya orang yg ambisius, orang yg "ngoyo", orang yg gila harta. Alasannya?? Karena dy melihat saya bersungguh-sungguh menjalankan bisnis saya, melihat bahwa saya tidak hanya mengandalkan gaji guru untuk berkarya, melihat saya punya cita2 menjadi orang kaya.

Jiwa saya berontak. Jangan tanya bagaimana marahnya saya. Saya sudah terbiasa mendengar orang meremehkan kemampuan saya. Tapi saya selalu tidak terima jika orang memandang rendah impian saya. Saya benar-benar sakit hati. Mimpi saya tidak bisa diukur hanya dengan nominal rupiah. Tidak. Bahkan nominal rupiah berapapun tak bisa membeli impian saya.

Dengan amarah yg saya tahan sekuat tenaga, saya meninggalkan orang tersebut yang terus menghakimi saya seenak hatinya. Air mata saya luruh. Menangis sepanjang jalan saya pulang. Saya, dengan ilmu yg sangat minim, mulai membatin, mulai menyalahkan, "bagaimana bisa dy menghina mimpi orang lain, sedangkan dy seorang guru? Bagaimana dy bisa menghidupkan mimpi2 muridnya jika dy sendiri tidak percaya pada mimpi?, Bagaimana bisa orang dengan mudah melecehkan harga diri saya, sedangkan dy, saya rasa, juga tidak lebih baik dari saya?".

Tangis saya tidak bisa berhenti. Luka saya benar2 dalam. Disuatu pemberhentian lampu merah, saya tiba-tiba tersadar. Mental saya masih belum mental sukses. Mental saya masih mental tempe. Tidak seharusnya saya marah pada beliau. Tidak seharusnya saya menyalahkan beliau untuk sakit yang saya rasakan sekarang. Beliau hanya salah satu jalan, untuk membentuk mental baja pada diri saya. Saya harus bisa melewatinya dengan lapang dada. Jika tidak, bahkan saya pun tidak pantas untuk kesuksesan itu sendiri.

Seketika air mata saya surut. Senyum saya tersungging. Betapa hebat pelajaran Tuhan hari ini. Semangat saya dengan takjubnya berlipat ganda seketika.

Di sepanjang jalan yang tersisa menuju rumah saya, saya tak henti-hentinya bersyukur. Bersumpah dalam hati, untuk selalu berusaha.

"Karena Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika dia sendiri tak mau merubahnya"


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Minggu, 06 November 2011

Ketika Masa Lalu Menyapa

Ketika masa lalu menyapa, cukup bilang hai saja.. Katakan terima kasih dan segeralah menengok kedepan lagi. Jangan terlalu lama terbuai pada kenangan yg kau tahu, hanya untuk dikenang. Sebahagia apapun, atau sesedih apapun, tetap saja tersenyum. Karena merekalah yg membuatmu bertumbuh. Laksana sedang naik kendaraan, jadikan masa lalu sebagai spionmu. Boleh sebentar melirik, tapi fokuslah pada apa yg didepan. Jangan terkecoh dg indah atau buruknya yg dibelakang. Karena itu semua, sudah kau lewati.

Maka berbaik-baiklah sekarang..
Setidaknya, tidak akan ada penyesalan.. :)

Nb. Untuk orang yang mengajariku tumbuh. Happy knowing u in my life.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Thankful

Lord, i fully thank for every joy in my life which make me understand things going right
Also thank for every my problem which could gimme more power to face the wrong one

Without U, M nothing.

With uncounted Love
Nina

HOREEE!!!!


Sabtu, 05 November 2011

Kenapa harus menangis??

Iya, kenapa harus menangis? Aq merasa tidak sedang dlm keadaan berduka. Aq baik2 saja. Jadi kenapa aq harus menangis?
Tanpa sengaja, aq membaca postingan seorang kawanku di twitter yg me'Retweet sebuah posting dari @pengajarMuda. Mengabarkan bahwa gerakan tersebut membutuhkan para pengajar muda dari seluruh pelosok indonesia untuk ditempatkan diseluruh pelosok negeri. Aku tergerak, sudah tentu. Sebagai seorang guru dan orang yang berkecimpung didunia pendidikan selama hampir 4th, tentu saja aku sangat sangat sangat berminat. Aku yang merasa seperti katak dalam tempurung karena menghabiskan hampir seumur hidupku di kota ini, merasa ini adalah suatu tantangan baru. Aku pasti bisa. Di postingan itu, diberitahukan bahwa pendaftaran akan dibuka besok. Ahh, rasanya waktu itu sudah tak sabar..

Esoknya, dengan menumpang komputer sekolah, aq mulai mengisi form2 aplikasi di website yg mereka tentukan. Sedikit2 aku mengisinya. Hampir aq tak mendapat kendala. Lalu tibalah di tahap essai. Pertanyaan pertama: apa motivasimu menjadi pengajar muda (intinya seperti itulah, :p). Entah kenapa pertanyaan ini membuatku lama terdiam. Sampai beberapa menit kemudian, aq masih belum bisa menulis satu hurufpun.
Aku bingung. Sebagai seorang pendidik, seharusnya aq sudah tahu motivasiku mengikuti gerakan ini. Tapi entah kenapa, rasa2nya, aq belum benar2 menyelami apa niatku sesungguhnya. Ada yang tak dapat aku ungkapkan. Entahlah.. Terlalu rumit untuk dijabarkan dalam deretan 600kata.

Ketika pulang kerumah, sambil mengendari karismaku, aq tak berhenti berpikir. Apa? Apa motivasiku sesungguhnya? Bukankah aq sudah mengajar? Bukankah aq sudah menjadi seorang pendidik? Lalu apa bedanya disini ataupun disana. Disana, belum tentu senyaman disini. Disana, belum tentu aq betah. Disana, belum tentu aku mampu.

Tapi.. Ahh.. Perasaan untuk tetap maju mendaftar tetap tak bisa kubendung. Aku mau, aku hanya mau. Dan aq tak tahu kenapa.

Dari smartphoneku ini, lalu aku membaca lebih jelas lagi situs indonesiamengajar.org disitu, aq meninggalkan biodataku tanpa ada satu katapun tentang kejelasan motivasiku. Membukanya lagi, entah apa yg ingin aku liat. Profil pengajar muda membuatku tergugah untuk mengintipnya. Tampaklah foto2 mereka. Tulisan2 mereka. Pengalaman mereka.

Dan itu membuatku menangis. Menangis sejadi2nya. Aku iri. Aku mau seperti mereka. Mereka tidak mendapat title S.Pd sepertiku. Banyak dari mereka tidak punya pengalaman mengajar. Tapi dari lubuk hati paling dalam, aq bisa merasakan keikhlasan mereka. Merasakan kebeningan jiwa mereka. Merasakan dengan sebenar-benarnya, merekalah para pendidik sejati. Merekalah yang patut mendapat julukan si pahlawan tanpa tanda jasa. Merekalah..

Jadi, dilembar motivasi yg mendasariku ingin jadi pengajar muda, tak cukupkah bila kutuliskan, "aku ingin menjadi seperti mereka"??

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Jumat, 04 November 2011

Saat Tak Dapat

Saat mulut sudah tak sanggup lagi berkata,
Saat tingkah tak lagi sanggup menunjukkan asa,
Saat pikiran tak sanggup lg di proyeksikan dengan mimpi indah..

Itulah.. Waktunya diam...

Guru. Sebuah pilihan atau desakan??

Ketika pertama kali memasuki kampus 4th lalu ketika pertama kali mendaftar, suasananya sangat lenggang. hanya ada beberapa mahasiswa yang lalu lalang bercengkrama dengan temannya. Ya, hanya beberapa. Setelah aktif masuk kuliah, baru saya mulai bisa sedikit-sedikit jadi pengamat di sekolah tinggi tempat saya menuntut ilmu ini. Di tahun ajaran saya, terdapat 3 kelas di jurusan yang saya ampuh. Ditahun ajaran sebelumnya, terdapat hanya 2 kelas. dan sebelumnya lagi, hanya terdapat 1 kelas. Sedangkan setahun kemudian, ketika saya memasuki tahun kedua, berkembang menjadi 4 kelas. Dapat saya simpulkan, setiap tahun, peminat menjadi seorang guru, terus meningkat.

Selintas saya berpikir, apa yang menyebabkan profesi ini menjadi naik daun? Apakah kesadaran mengajar sudah menyeruak? Apakah panggilan hati unuk mendidik sudah begitu kencangnya bergema? Apakah?? Apakah?? Apakah??

Teringat beberapa tahun yang lalu ketika saya masih menginjak bangku sekolah menengah pertama, banyak orang yang mencemooh profesi ini. Tidak keren. Tidak menjanjikan. Miskin. Lalu apa kiranya yang mendasari profesi ini menjadi profesi yang sangat digemari?

Setelah bertanya kepada beberapa teman, terjawab sudahlah. Kebijakan RI pertama yang mulai memperhatikan profesi ini, menjadi alasan orang berbondong-bondong menjadi guru. Dengan iming-iming di setarakan profesi ini dengan profesi lain yang sebelumnya dianggap "elit", membuatnya menjadi primadona baru bagi para muda/mudi kita yang masih bimbang menjadi apa. Saya sih tidak menyalahkan SBY, malah mendukung penuh rencana tersebut. Semata menghargai para tetua pencerdas bangsa yang telah mengabdi terhadap negara meski title "belum keren" masih melekat erat. yang membuat miris, ramainya para calon guru ini hanya didasarkan pada iming-iming gaji semata. Aaaah... profesi guru malah akan jadi lahan komoditas baru dalam menggelembungkan rupiah. Sah-sah saja bila memang pantas mendapatkannya. Tapi, jika hanya jadi tunggangan dari desakan ekonomi, apa jadinya??? jadi sekarang para guru, termasuk saya sendiri, sebaiknya menelusuri hati hingga ujung paling dalam. Menjadi guru, sebuah pilihan atau hanya desakan????




Selasa, 11 Januari 2011

4 TIPE KEPRIBADIAN. ANDA TERMASUK YANG MANA???


Dlm dunia psikologi, dikenal yg namanya 4 tipe kepribadian: Sanguinis, Melankolis, Koleris & Plegmatis, atau ada jg yg langsung mengkategorikannya sesuai dgn sifat dominan masing2 tipe, yaitu: Sanguinis Populer, Melankolis Sempurna, Koleris Kuat & Plegmatis Damai. nah trus saya & anda termasuk yg mana? sok atuh disimak yg berikut ini


KOLERIS pada umumnya mempunyai:

KEKUATAN:
* Senang memimpin, membuat keputusan, dinamis dan aktif
* Sangat memerlukan perubahan dan harus mengoreksi kesalahan
* Berkemauan keras dan pasti untuk mencapai sasaran/ target
* Bebas dan mandiri
* Berani menghadapi tantangan dan masalah
* "Hari ini harus lebih baik dari kemarin, hari esok harus lebih baik dari hari ini".
* Mencari pemecahan praktis dan bergerak cepat
* Mendelegasikan pekerjaan dan orientasi berfokus pada produktivitas
* Membuat dan menentukan tujuan
* Terdorong oleh tantangan dan tantangan
* Tidak begitu perlu teman
* Mau memimpin dan mengorganisasi
* Biasanya benar dan punya visi ke depan
* Unggul dalam keadaan darurat

KELEMAHAN:
* Tidak sabar dan cepat marah (kasar dan tidak taktis)
* Senang memerintah
* Terlalu bergairah dan tidak/susah untuk santai
* Menyukai kontroversi dan pertengkaran
* Terlalu kaku dan kuat/ keras
* Tidak menyukai air mata dan emosi tidak simpatik
* Tidak suka yang sepele dan bertele-tele / terlalu rinci
* Sering membuat keputusan tergesa-gesa
* Memanipulasi dan menuntut orang lain, cenderung memperalat orang lain
* Menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan
* Workaholics (kerja adalah "tuhan"-nya)
* Amat sulit mengaku salah dan meminta maaf
* Mungkin selalu benar tetapi tidak populer


MELANKOLIS.

KEKUATAN:
* Analitis, mendalam, dan penuh pikiran
* Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal
* Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis)
* Sensitif
* Mau mengorbankan diri dan idealis
* Standar tinggi dan perfeksionis
* Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi)
* Hemat
* Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif)
* Kalau sudah mulai, dituntaskan.
* Berteman dengan hati-hati.
* Puas di belakang layar, menghindari perhatian.
* Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi
* Sangat memperhatikan orang lain

KELEMAHAN:
* Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan)
* Mengingat yang negatif & pendendam
* Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah
* Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan
* Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah
* Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..)
* Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan
* Hidup berdasarkan definisi
* Sulit bersosialisasi
* Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya
* Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang)
* Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian)
* Memerlukan persetujuan


PLEGMATIS.

KEKUATAN:
* Mudah bergaul, santai, tenang dan teguh
* Sabar, seimbang, dan pendengar yang baik
* Tidak banyak bicara, tetapi cenderung bijaksana
* Simpatik dan baik hati (sering menyembunyikan emosi)
* Kuat di bidang administrasi, dan cenderung ingin segalanya terorganisasi
* Penengah masalah yg baik
* Cenderung berusaha menemukan cara termudah
* Baik di bawah tekanan
* Menyenangkan dan tidak suka menyinggung perasaan
* Rasa humor yg tajam
* Senang melihat dan mengawasi
* Berbelaskasihan dan peduli
* Mudah diajak rukun dan damai

KELEMAHAN:
* Kurang antusias, terutama terhadap perubahan/ kegiatan baru
* Takut dan khawatir
* Menghindari konflik dan tanggung jawab
* Keras kepala, sulit kompromi (karena merasa benar)
* Terlalu pemalu dan pendiam
* Humor kering dan mengejek (Sarkatis)
* Kurang berorientasi pada tujuan
* Sulit bergerak dan kurang memotivasi diri
* Lebih suka sebagai penonton daripada terlibat
* Tidak senang didesak-desak
* Menunda-nunda / menggantungkan masalah.


SANGUINIS.

KEKUATAN:
* Suka bicara
* Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif
* Antusias dan ekspresif
* Ceria dan penuh rasa ingin tahu
* Hidup di masa sekarang
* Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan)
* Berhati tulus dan kekanak-kanakan
* Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara)
* Umumnya hebat di permukaan
* Mudah berteman dan menyukai orang lain
* Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian
* Menyenangkan dan dicemburui orang lain
* Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam)
* Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan
* Menyukai hal-hal yang spontan

KELEMAHAN:
* Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras)
* Membesar-besarkan suatu hal / kejadian
* Susah untuk diam
* Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank)
* Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele
* RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek)
* Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias)
* Mudah berubah-ubah
* Susah datang tepat waktu jam kantor
* Prioritas kegiatan kacau
* Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas
* Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya
* Egoistis
* Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama
* Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money".

Senin, 10 Januari 2011

PARA GURU/CALON GURU,,, BACA INI!!!!

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. "Maaf Bapak dari mana?" "Dari Indonesia," jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. "Saya mengerti," jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. "Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,"lanjutnya. "Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement! " Dia pun melanjutkan argumentasinya.

"Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat," ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai "A", dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedapseakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel.

Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan," ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. "Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti."

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan "gurunya salah". Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk olehsejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI