This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 03 Juni 2016

Draft Calon Buku #2

Topik: Parenting
Tema: Resep MPASI
Judul: Resep MPASI Untuk Ibu Super Sibuk

1. Apa itu MPASi?
a. Tujuan MPASI
b. Manfaat bagi Ibu dan Anak
c. Kenapa harus Homemade?

2. Persiapan MPASI
a. Bahan yang dibutuhkan
b. Alat yang diperlukan

3. Resep MPASI
a. Untuk Usia 6-7 bulan
- Pure (Buah, Sayur, Serelia)
- Snack (Cookies dan Finger food)

b. Untuk Usia 8-12 bulan
- Nasi Tim Kombinasi (Menu Daging & Menu Ikan)
- Snack (Cookies & Finger Food)

c. Untuk Usia 1-2 tahun
- Menu Lengkap ( Sayuran, Karbohidrat, Protein dan Vitamin)
- Snack (Jus dan Kudapan)

Suka mana sama yang pertama?? :D

Draft Calon Buku #1

Yuhuuuu.... Akhirnya ke isi juga blog ini... :D

Untuk tugas KMO akan di post lewat blog ini saja ya... :D

Here we go...

#TugasKMOBatch6


Topic: Pengembangan Diri
Tema: Pengembangan Diri untuk para ibu muda.
Judul: Hai Para Mama Muda! Kamu Tidak Sendirian.

1. Ketika kamu lupa siapa dirimu
A. Problem
- Tidak mempunyai waktu untuk diri sendiri
- Bosan dengan rutinitas
- Kesibukan yang seakan tidak berakhir

B. Solusi
- Sediakan waktu untuk diri sendiri
- Jadwalkan setiap kegiatan
- Jangan mencoba untuk selalu sempurna

2. Ketika pasangan tak sama seperti dulu
A. Problem
- Kebiasaan-kebiasaan aneh
- Komunikasi yang buruk
- Cinta yang hilang

B. Solusi
- Terima pasangan apa adanya
- Hormati pasangan
- Tumbuhkan cinta yang mati

3. Ketika anakmu tak lagi lucu
A. Problem
- Anak tidak mau makan/Gerakan Tutup Mulut (GTM)
- Mulai membangkang
- Tantrum

B. Solusi
- Mempererat bonding
- Variasi Makanan
- Belajar tentang cara pengasuhan anak

4. Ketika lingkungan mulai memusuhimu
A. Problem
- Si tukang ikut campur
- Si tukang membandingkan
- Si tukang fitnah

B. Solusi
- Buat Batas
- Tetap rendah hati tanpa rendah diri
- Balas dengan anggun

5. Ketika uang menjadi nomet satu
A. Problem
- Uang belanja terasa kurang
- Hutang menggunung
- Tidak punya tabungan

B. Solusi
- Belajar mengatur anggaran rumah tangga
- Keinginan vs Kebutuhan
- Management Hutang
- Investasi

Kalo udah jadi, ada yang mau beli bukunya??? :D :D

Selasa, 19 April 2016

Ketika Tata Sakit

Tata lagi bobo diluar sama tante dan mbah ti, mamanya masuk kamar sambil nahan tangis...

Hiks... Sedih...

Udah dua hari tata sakit. Awalnya diare, tp masih ceria. Eh, besoknya badannya panas. dan td mulai muncul sariawan-sariawan di mulutnya... hiks...

Tata anak yang jarang ngeluh sakit. Meski emak nya manja dan suka ngelu meski cuma pegel linu doang, Tata ga begitu... Pernah sakit tipes parah. Dia hanya lemes, diem dan gak ngeluh atau rewel. Paling banter cuma bilang, "Tata sakit mamaaa"

Dan sekarang liat anak lanang lagi tidur sambil nahan tangis pegangin mulutnya yg sariawan itu gimana yaa rasanya... hiks... hiks... 😭😭

Tadi udah ke dokter. Diagnosa radang tenggorokan. Dikasih resep antibiotik, dll... Tapi tata termasuk yang susah minum obat. Kalau pun dipaksa, jadinya muntah kemana-mana... Jadi serba salah.. 😩

Moga besok anak mama udah ceria lagi ya sayang... Mama sayaaaaaaaang tata.. 😘😘

Sabtu, 09 April 2016

Ketika menulis sudah tak lagi menjadi kebutuhan

Berbicara tentang menulis,  erat kaitannya dengan bicara masalah produktivitas.  Dan jangan tanya produktivitas saya menulis dalam beberapa tahun belakangan ini. 

Sibuk?  Sama saja sepertinya.
Saya hanya mencari-cari alasan saja untuk tidak menulis.  Jangankan menulis di blog atau jurnal,  sekedar menulis status di facebook saja kok ya kadang bingung mau menulis apa?!

Apa hidup saya semonoton itu ya?

Padahal saya melewati banyak hal seru dan sebenarnya layak dan patut untuk diperbincangkan (halah) :p

Mulai dari pernikahan dengan pak Suami,
Punya jagoan pertama,
Hamil lagi yang kedua,
Melahirkan incess yang imut tak ada dua nya...

Kehidupan di jakarta,
Kepindahannya ke kampung halaman,
Suka duka dalam berumah tangga dan mengarungi hidup (tsaaaaah! ) Aahhh pokoknya banyak deh!

Dan semua itu berlalu begitu saja karena semua kemalasan untuk menulis... (tutup muka pake telenan)

Mbuh lah ya...
Ninggalin jejak aja dulu deh!
Besok dipaksakan untuk menulis lagi :D

Minggu, 01 Maret 2015

Finally!!!

Aw...aw...aw... Akhirnya memutuskaan untuk kembali ngeblog setelah entah berapa abad blog terabaikan (lebaaaay). Maklum ya kesibukan sebagai ibu rumah tangga yang sok sibuk begitu menyita waktu... Tsaaah...

Bingung ya, sekarang mau ngeblog pake tema apa. Dulu waktu masih single kayaknya berapi-api banget ngomongin idealisme yang auk ah kemana sekarang. Hehehe... Eh, jangan salah... Jadi ibu rumah tangga itu tidak semudah yang saya pikirkan dulu lho... Iya, duluu.. Duluuuu banget saya dengan bodoh nya mikir kalo pekerjaan ibu rumah tangga itu "enggak banget" lah... Kasarnya mending suruh cari duit diluar deh dari pada suruh ngapalin mana lengkuas mana jahe. Ibu aja sampai hopeless nasehatin anaknya supaya lebih akrab sama dapur and sebangsanya... Tau yaa gimana yaa.. Maklum semangat masa muda masih menggebu-gebu... Huehehehe #ngelessss

Bener lho... Sekarang idealisme jadi pengusaha plus guru yang sukses, punya bimbel dan punya sekolah sendiri rasanya harus kepending dulu berganti dengan idealisme gimana caranya supaya cucian ga numpuk karena males nyuci, gimana cara cerdas ngurus anak tanpa stress and gimana caranya bikin suami rela memakan hasil masakan kita... Fiuuuh... Ternyata lebih sulit dari pada bikin kursusan saudara-saudara... #Lap keringet dulu...

Jadi inget dulu jaman kuliah si indun temen dikit bingit bilang,

"Nin, kalo jadi ibu-ibu punya anak jangan sampe muka kucel pake daster berkeliaran kemana-mana"

Daku dengan pedenya jawab,

"Enggak mungkin lah... Aku pasti tetep keren dong pake jeans kesayangan, blouse model terbaru n kerudung yang menclok sana sini"

Dan liat lah diriku sekarang... Huhuhuhu... Ini semua gara-gara kebanyakan nonton inpotemen yang isinya artis2 keren bawa anak yang mukenya kinclong2. Harapan terlalu tinggi saudara-saudara... Kenyataannya, bisa bedakan seminggu sekali aja udah syukur alhamdulillah...

Menjadi ibu memang ga mudah, ga ada sekolah nya, dan ga habis-habis masa belajarnya. Tapi itu semua worth it saat liat si krucil2 bobo dengan nyenyaknya, saat mereka senyum and meluk kita dengan sayang, saat ini itu yang gak bisa dijabarkan satu-satu.... Aaaarghhh... Saya merasa beruntung lhoooo...

Yak masalah penampilan tar kita rubah pelan-pelan ya... Hihihihi...

Senin, 11 Maret 2013

HORAYY!!!

Hayo, pasti lihat judul diatas pada nebak kenapa pake subject yang rada heboh?? Lagi happy??

ANDA BENAR!!

Saya lagi happy bin berbunga-bunga karena akhirnya dengan kebulatan tekad yang membara setelah berbulan-bulan diuji dengan materi-materi sepanas lumpur lapindo, saya berhasil mengalahkan kemalasan saya menulis di blog ini. #halaah.

Emang bener sih, gara-gara tadi iseng sama si onyon searching-searching nama diri sendiri di google *eits kamu juga pernah kan* and berusaha menelusuri tingkat kepopuleran masing-masing di dunia maya. Yah, dia sih menang tipis gara-gara ada mantannya n salah satu muridnya yang nyatut nama nya di blog si empunya.

Rada nyesek juga sih.. Woy?? Mantan-mantanku? Kemana kalian selama ini? Tidak adakah yang berusaha mengabadikanku lewat tulisan? Paling tidak membuatkanku sebaris puisi indah?? Hiks

Yah, emang ga bakalan ada sih. Berhubung yang berlabel mantan cuma seorang n yakin seribu persen dia ga bakal menyinggung saya di blog (yaiyalah orang dia ga punya blog -_-"). Dan habislah saya diledekin si onyon yang senyum-senyum mesum liat namanya sendiri di barisan mbah google. Tuh anak emank berlebihan mencintai diri sendiri. (►˛◄'!)

Dan ga papa lah... Karena nya saya jadi kangen ngeblog and eng ing eng.... Jadilah tulisan ngasal ini. Hehehe. Derita membawa nikmat..

Okelah. No problemo.
Sekian dulu deh. :p

*si onyon maksa saya nyatut namanya, tapi sorry dorry brury... Enggak lah yau... *kecuali dikasih si chanky... Hahay :D
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Senin, 30 Juli 2012

Untuk Kata

Aku membuka layar netbook ku yang sudah berdebu di pagi ini. Entah sudah berapa hari, atau bahkan minggu aku tidak menyentuhnya. Tidak ada alasan khusus tidak bersinggungan, seperti waktu yang menghimpit, atau netbook yang sakit. Hanya rasanya, aku merasa tidak ada alasan kuat untuk sekedar menyentuhnya, bahkan meliriknya pun enggan.

Ini bukan membahas tentang aku dan netbook ku. Bukan pula membahas aku yang berniat menceraikannya dan memilih yang baru. Aku ingin menyinggung sedikit tentang kemalasanku, keenggananku untuk Menulis. Argh, aku merasa seperti ada yang hilang ketika aku berhenti menuangkan pikiran. Bahkan di twitter pun rasanya hanya menulis status "saya ada disini.. Bla..bla..bla..." Bukan berupa ide, bukan berupa anak pikiran yang siap berbuah. Apa itu berarti aku telah berhenti berpikir? Berhenti mendalami akan sesuatu? Bukankah tulisan yang selama ini seolah membuatku "hidup"? Aku mulai prihatin dengan diriku sendiri.

Banyak peristiwa, banyak kejadian, banyak sekali hal yang telah terlewatkan dari pandangan. Aku menyadari di titik ini sekarang kalau kemandeg'an ku membuatku berhenti berproses. Aku juga meyakini, musibah ini terjadi karena aku sudah merasa puas dengan yang ku dapat sampai melupakan kekasih lama, buku. Wah, ternyata aku sudah terlalu sombong.

Maka, sekarang, di saksikan netbook ku yang masih membisu, ku teriakkan sumpah dalam hati untuk mengabdikan hidupku untuk kata. Untuk berproses, untuk selalu bermetamorfosis. Untuk selalu berdaya. Dengan mendayagunakan kata yang membuat nadi dan pikiranku tak lagi mati suri.

Hidup, dan menghidupi.
Rasa, dan merasai.

Untuk Kata...


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Minggu, 17 Juni 2012

Merindu

Aku tersayat tiap jarum berdetak. Mengoyak asa yang mengharu biru menusuk kalbuku yang mulai beku. Dan sebelum detaknya menjadi penanda kehidupan yang telah mematikanku, aku tersungkur khidmat dalam alunan kidung syahdu yang melenakan. Yang membuka tabir-tabir kesadaran baru yang sebelumnya aku tutupi rapat-rapat. Getir aku merasakan akalku mulai berdistorsi seenaknya sendiri. Ah, biarlah... Dia melaju seenaknya. Karena hatiku sepertinya sudah putus urat dengan akalku. Maka biarlah, kukunci mati rinduku. Biar tetap kurasakan indah, mencintamu yang terindah.

Sabtu, 16 Juni 2012

Hujan di Langit Jakarta

Pagi ini begitu menakjubkan. Aku buka jendela kamar-ku yang berselimut kabut. Sangat mengherankan menemukan kabut di belantaran jakarta. Titik-titik embun bertengger pada dedaunan yang hijau. Udara segar menyergap-ku saat membuka pintu balkon. Tuhan sedang mengajak-ku bercanda. Bahkan aku bisa melihat semburat-semburat pelangi di langit jakarta yang cerah.

Air menghujani jakarta tadi malam. Banyak sekali yang aku dalami dari palung-palung dalam disituasi yang begitu biru. Aku menelisik setiap maksud hati. Tentang hidup, tentang mati, tentang sebuah nyawa dan proses melewatinya. Aku bertanya tentang alam yang mendukung setiap langkah-ku. Seakan lewatnya lah doa-doa ku dikabulkan. Aku mempertanyakan malam yang dengan kerelaan hati bersepakat dengan mendung. Mengorbankan pijar-pijar bintangnya tersembunyi dalam balutan kelam.

Hujan, membantu-ku juga mendinginkan hati ku. Memberi kesejukan yang tiada tara dalam sebuah kerinduan yang mistis. Aku harap, aku juga bisa menemukan hujan di saat kemarau sedang hinggap menusuk-nusuk setiap malam. Hujanku akan segera datang, bukankah begitu, sayang...
Dan pelanginya akan segera merona di wajah kita yang sedang terbius rindu...

Engkaulah hujanku....

Selasa, 05 Juni 2012

Distorsi Yakin


Ada seorang teman yang tiba-tiba bertanya, apa itu keyakinan? Bagaimana kah kita dikatakan yakin? Apakah wujudnya dan bagaimanakah membentuknya agar membuat sebuah pola dalam diri kita dan kita bisa menjiwainya?

Pertanyaan tersebut mungkin sebuah pertanyaan yang wajar di kehidupan kita yang segala maknanya semakin absurd. “Yakin”, seperti kata-kata lain yang bernasib sama, juga mengalami pendistorsian yang dimaksudkan agar tetap sejalan dengan cara pelaku medefinisikannya. Jika menyinggung kata itu, seakan jarring-jaring di akal kita langsung menangkap makna ‘agama’. Keyakinan adalah Agama. Agama kita didefinisikan seberapa besar keyakinan kita. Begitukah?? Bila benar demikian, maka pertanyaan selanjutnya adalah, “apa itu agama?”. 

Banyak dari kita yang menyebut bahwa agama adalah petunjuk hidup yang menyambungkan manusia dengan Tuhan. Agama adalah tata surya sekaligus berupa partikel ataupun molekul kecil. Agama mengejahwantai semesta. Agama di definisikan begitu suci dan megah. Maka ketika kita menyandingkannya dengan keyakinan, maka keyakinan menjadi sebuah barang mahal untuk diresapi. Dogma-dogma dalam sosial dan budaya kita meminta kita tunduk dan patuh terhadap sesuatu yang disebut agama. Tanpa boleh kita belajar meyakini dengan cara kita, dengan kedalaman proses berpikir kita, dengan perlahan-lahan perkembangan ilmu kita. Kita hanya boleh yakin dan percaya. Entah itu dengan cara melakukan yang di syari’atkan, ataupun melakukan yang disunnahkan. Hanya boleh dilakukan. Tanpa boleh banyak cingcong. Titik.

Jika akhirnya ada yang bertanya pada kita, apakah kamu yakin dengan agama-mu, maka kita dengan lantang-nya akan menjawab “Aku Yakin!!”. Tapi benarkah? Tidak bermaksud menyepelekan agamanya, yang digaris bawahi di sini adalah manusia-manusianya. Benarkah yakin? Benarkah percaya? Benarkah benar-benar mengimani? Atau kepercayaan dan keimanan kita tak ubahnya ibu dan bapak yang mengaku mewariskan darahnya ke kita. Hanya karena kita tinggal seatap, hanya karena kita dilimpahi kasih sayang, hanya karena kita mendapat pengakuan atas keberadaan kita, Dan kita sudah begitu yakin dengan asal-usul kita. Begitu piciknya kah sebuah keyakinan, yang jikalau begitu, begitu mudah kita merekayasanya?

Pada kenyataannya, keyakinan dalam bentuk apapun dibentuk dari sebuah keraguan. Tanpa adanya ragu tidaklah mungkin ada yakin. Bagaimana bisa kita percaya pada kenyang, jika kita tidak pernah merasa lapar? Tidak mungkin ada kotor, jika sebelumnya tidak ada bersih. Yakin, tidak serta merta tercipta. Begitupulah agama. Jika kita meyakini dan mempercayainya hanya karena proses pewarisan, maka sebenarnya yang kita yakini bukan Tuhan maupun agamanya, tapi pembawa warisanlah yang sudah kita yakini. Jadi masihkah mensabda sebagai orang yakin??

Yakin dibentuk oleh keragu-raguan yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Dari situlah kita akan memperoleh jawaban-jawaban yang mengukuhkan hati kita menjadi yakin. Maka kembali ke diri kita masing-masing, sudahkah kita meragukan tentang suatu yang begitu kita percayai? Dan dengan pikiran netral kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam hingga kita berproses dalam menemukan jawaban-jawabannya? Jika belum, kita perlu mempertanyakan lagi keyakinan kita. Jika sudah, terus-meneruslah bertanya dan mempertebal keyakinan. Karena sesungguhnya, yakin itu berdenyut. Dia hidup. Dan oleh karena itu, dia bisa pelan-pelan sekarat, dan mati. Dan dari kematiannya, akan lahir sebuah anak keyakinan baru. Sesungguhnya pertanyaan lahir dari sebuah akal yang diberikan Tuhan. Sesungguhnya, dari anjuran membaca saja, Tuhan ingin kita melalui proses pencarian yang akan membentuk keyakinan. Jadi sahabat, selamat beryakin-yakin! Karena Yakinmu, sesungguhnya adalah Bola Matamu.

Pare, 24 Mei 2012

Minggu, 03 Juni 2012

Dear Masa Depan....

Dear diriku di masa depan,

Hai, bagaimana kabarnya? Apakah kau di sana sebaik aku di masa ini? Aku harap kau semakin baik dan aku juga berharap aku tidak membuat keputusan yang menyulitkanmu di masa depan.

Apakah kau tahu, dirimu disaat ini sedang banyak mengalami tantangan-tantangan hidup yang sudah diramalkan oleh dirimu di masa lalu. Dan aku yang sekarang, sedang semangat-semangatnya belajar tentang arti kehidupan, tentang bagaimana sebuah proses dapat bertahan, dan bagaimana tetap tegar di masa-masa paling sulit sekalipun. Dirimu di masa ini juga sedang banyak bergelut dengan hal-hal yang pasti akan mempengaruhimu di masa depan. tapi engkau jangan sekali pun kawatir, karena aku pasti melakukan sesuatu, sesuai dengan nilai-nilai yang telah kita sepakati. Bukankah begitu?

Aku ingin, nanti saat kau membaca ini, tantangan-tantangan yang tengah aku hadapi sekarang sudah menjadi hal yang kau syukuri. Aku berharap kau akan menemukan berkah dan pelajaran yang pasti akan sangat berarti buat kehidupan kita kelak.

Aku menyayangimu... untuk itulah aku bertahan sampai sejauh ini...
Suatu hari nanti, jika kau menemukan tantangan-tantangan baru, bertahanlah... hadapilah... berjuanglah...
Kau akan banyak menemukan hal yang akan membuatmu tersenyum lebar....

Percayalah padaku...
Kau akan membuktikannya sendiri nanti...

Dari yang teramat menyayangimu...

Nina -2012-

Minggu, 20 Mei 2012

Insane

apakah masih di sebuat asa jika angkuh
jiwa-jiwa mulai terbelenggu
bersenggama dalam kelam
bermuara dalam rapuh
tersesat di negeri antah berantah

ada yang salah dengan indah
jika damai di lejitkan dalam metafora
keyakin tak lagi nyata
dan angan dipenjara dalam denyut abadi
persengkongkolan antara membatu dan melebur

enyahlah...
sebelum api padam
sebelum arang jadi abu
sebelum mayat berenkarnasi

:adalah
sebelum terlambat, sayangku...


Pare, di sebuah bilik.

Selasa, 01 Mei 2012

Orang-orang "Pilihan"

Mendengar kata "pilihan", benar-benar membuatku muak. Seorang teman baik berkata, bahwa dia dan golongannya adalah orang-orang "pilihan" karena melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain. Merendahkan orang, seolah derajatnya lebih tinggi dari yang lain. Bah!!! Ingin aku muntah!!

Belum berakhir teman... Masih jauh kau mengkultuskan dirimu setinggi itu. Terlalu dini... Sesungguhnya kata "pilihan" yang kau pilih untuk membedakan dirimu, hanya menunjukkan seberapa dangkal ilmu mu.


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Senin, 30 April 2012

D.O.A

Tubuh yang mendoa pun bisa jadi tubuh yang paling munafik
Berselimut kabut, tapi mengaku memiliki cahaya
Bergelimang nista, tapi mensabda diri paling mulia
Hanya karena berbeda bahasa, kau menyebut yang lain hina

Menyalahi tubuhnya yang berkitab
Lupa bahwa panca indranya juga berkitab
Membohongi tindak tanduk yang juga berkitab
Memunafiki sekelebat pikiran yang juga berkitab

Kitab tubuhmu cerminan doa mu.
Diammu lebih mulia dari doa mu.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Minggu, 29 April 2012

Mimpi

Bergerak merangkak naik
Maju lari menggebu
Satu satu dan satu
Hingga ku capai seribu kali seribu

18.05
April 29, 2012
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kamis, 26 April 2012

Dendang Pekat

Malam ini semakin menghitam, sepekat kopi yang kuaduk beberapa jam yang lalu. Mungkin karena tetesnya aku masih terjaga selarut ini, bagai seorang pasien yang menunggu obat mujarab untuk menyembuhkan sakitnya. Aku satu dari milyaran orang didunia yang percaya bahwa beban yg dipikulkan Penguasa lebih berat dari daya tubuh itu sendiri. Karena alasan itulah aku seperti seorang 'masochist' yang hobi menguliti kulit nya sendiri dan memainkan pisau diurat nadinya. Seakan bersiap untuk sebuah kemungkinan terburuk yang akan datang.

Tapi sisi kemalaikatan dalam jiwa yang terkoyak iman ini mulai bisa membisikkan alunan nada surga yang menenangkan. Meredam setiap cela untuk jatuh dan menjadi irama yang indah bagai background musik di setiap sinetron picisan saat sang pemeran utama menang. Aku bertarung dalam pertarungan sengit yang melelahkan. Melawan seorang penantang yang perkasa dibalik pantulan kaca wajahku sendiri. Bahkan biografi tubuh yang sudah selayaknya aku pahami, mulai tak lagi kukenali. Aku melawan sosok lain yang bersembunyi dalam tubuhku. Seolah bersemedi didalam sana membuatnya semakin kuat. dan aku mati-matian menarik nafas agar tak terputus perlahan. Aku dalam sosok itu begitu menakutkan. Seakan siap menggrogoti jiwa kewarasanku sedikit demi sedikit. Semakin aku bertahan, dia semakin besar. Semakin aku melawan, dia semakin bangkit.

Menalar kini aku dibuatnya. Menelisik semesta macam apa yang menghidup dan mematikannya!? Dan perlahan aku mulai menemukan beberapa jawaban yang tercerai berai.

Aku hanya perlu sumpah yang kokoh atas nama sebuah kejayaan. Sebuah janji murni akan kebahagiaan. Sebuah niat yang teguh yang akan menggoyakkan raksasa tak berperikemanusiaan. Aku akan memberantasnya habis.

Hingga aku bisa berdiri diatas kakiku sendiri dan menapak semua jalan didepan tanpa dihantui musuhku tadi.

Sekarang, aku siap.

Ayolah... Aku pasti Menang.!!!

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Rabu, 18 April 2012

Pernahkah kau?

Pernakah kau ingin mengucap kata, tapi tak bisa menemukan analogi apa yang bisa mewakili rasamu?

Pernakah kau tertawa dan menangis dalam satu waktu untuk suatu alasan yang kau sendiri tak tahu?

Pernakah kau mengangankan sesuatu, tapi kau tak juga menemukan yang kau tuju karena bayangan itu terlalu indah untukmu?

Pernakah kau menyimpan sebuah asa, yang membuatmu sesak napas dan hatimu bergetar sampai kau menggigil kedinginan?

Aku pernah, dan sedang menikmatinya.

Aku merasakan cinta.

:)

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Jumat, 06 April 2012

Pilih mana? Appearance or Intelligence

Aku sering sekali mendengar pertanyaan seperti itu di beberapa kelas speaking yang pernah aku ikuti, pun menjadi motion yang pernah kugunakan di kelasku sendiri. Dalam memilih pasangan hidup, faktor apa yang akan kau pilih? Penampilan? Atau kepintaran?

Banyak dari mereka yang mempunyai idealisme tinggi, akan memilih pilihan yang kedua. Yang lain, yang cukup jujur dengan dirinya sendiri, lebih suka opsi yang pertama.

Aku pun (yang sok idealis) memilih opsi yang kedua. Kepintaran, kecerdasan, atau apalah itu yang bersinggungan dengan otak dan intektualitas, merupakan harga mati yang harus didapat dari sosok seorang pasangan. Penampilan tapi kosong isinya is nonsense. Ah, jangan perdebatkan opiniku ini... :p

Lalu, aku mulai berpikir lagi, dengan apakah aku bisa mengukur kepintaran seseorang? Dengan sekumpulan soal matematika, ataukah dengan menyuruhnya berbicara panjang lebar tentang topik-topik yang ada di negara kita? Tentang gayus, tentang kenaikan bbm ataukah tentang es yg mencair di antartika?

Apakah ahli dan menguasai itu semua, maka seseorang dikatakan orang yang cerdas? Orang yang mengikuti perkembangan jaman? Orang yang intelek? Apakah cukup dengan itu?? Apakah nilai kepantasan seorang pasangan dinilai dari sana?

Akhirnya aku sampai pada satu kesimpulan bahwa kejeniusan dalam hal yang aku bilang akademik tadi, tidak bisa menjadi ukuran akan berkembangnya akal seseorang. Karena aku akan memilih orang yang bodoh tapi mencintai ku dan keluargaku ketimbang seorang eksekutif yang tahu teori tapi tak tahu ilmu mengasihi. Aku akan lebih memilih seorang yang tampangnya biasa-biasa saja tapi bisa mengerti. Yang mungkin terlihat angkuh tapi mampu menunjukkan jalan yang harus kutempuh ketika aku mulai ragu. Seorang yang tidak tahu apa itu politik, hukum, ataupun perkembangan olah raga, tapi tahu cara memperlakukan ku dengan baik.

Idealismeku di runtuhkan oleh perkembangan kedewasaanku menilai sesuatu. Jika kau tanya sekali lagi, mana yang akan ku pilih, dengan senang hati aku akan menjawab,

Orang yang bijaksana.

Tak peduli nilai akademiknya.
Tak peduli paras wajahnya.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Cacing dalam kubangan

Aku tidak pernah mengira, jalan yang sudah aku rancang dengan sungguh-sungguh dan kebulatan tekad yang penuh harus berhadapan dengan suatu masalah yg tidak terprediksi kehadirannya. Aq menyukai tantangan. Dan aq adalah manusia yang cukup menyadari bahwa hubungan antar manusia adalah puncak dari segala kerumitan. Kerumitan yang pada awalnya sangat kuhindari, dan okelah, sepertinya aq harus ahli.

Aq keberatan jika dikatakan sebagai seorang melankolis yg begitu rapuhnya akan sesuatu. Aq terbiasa menyebut diriku korelis kuat yang teguh dan manut dengan semua mimpi yang telah kusepakati sendiri. Tapi tempat ini harus menjadi tempat penyiksaan batinku. Menamparku berkali-kali dengan perendahan ideologi yg begitu kusembah bagai seorang raja... Ah, sepertinya aku mengalami disfungsi otak sehingga aq, dengan waktu yang cukup lama, berkutat dalam kubangan kotor yang kuciptakan sendiri. Gila.

dan akhirnya sedikit kewarasan membuatku bangkit. Mengingat surga yang kubuat sendiri untuk hidup, dan mengingat, aku masih cacing yang berkutat di tanah yang sama. mengubur diri hidup-hidup.

Kewarasanku mengacu pada kesenanganku untuk tetap belajar. Kadang belajar benar, dan harus, kadang belajar salah. dan menerima ideologi-ideologi dari manusia lain sebagai warna dari kitab hidupku yang mungkin masih abu-abu.

Kadang, diam dan sedikit bicara, bisa sedikit membantu. Setelah itu, kubiarkan saja. Hancur.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Kamis, 09 Februari 2012

The Need for Reforming in Education

Education has an crucial part in Indonesia. Why I said so? It creates people that can be a hero, or even scum of society. Let take a look at Indonesia's society, how many beggars can we find? How many killers, robbers and their friend? It's so many, right? It proves that our education program still get trouble. There are several reasons why we need to reform our education curriculum and what it will impact if we still stand in our position today.

First reason, why Indonesia should change the point of view of the education, it could kill the students' creativity. Students here cannot choose their subjects. The government, by the curriculum, has already prepared it for them. During twelve years of their study, they do not have a right to choose what their interests are. It makes their perception stuck in the box. Moreover, it still uses teacher centered. Teacher is the subject in teaching-learning activity, and other hand the students are just the object that should be filled by system thought. Wearing uniform also the one which jails the students' creativity. They could not express their self cause their right showing their own characters curbed by the school rules. However, it will have a bad effect in their psychology point of view.

Making students stress is the second reason reforming education system. Could you imagine, students have to face twenty subjects every week! Twenty subjects which they should master all. However, the pupils also get a lot of homework. It seems that school regulation does not want to leave them even a minute. They will not have time to do something they like, build their hobbies, or just spend time not doing anything to refresh their mind. It is not a surprise, so easy we find suicide students. Based of a cup of problems, they kill their selves. It prove that our education create of high rate stress students.

It is the government responsible to take part of these problems. They should reform to solve the society problems caused by unstable system. I believe that we still have chance to create a better life by creating better people in education.

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!