This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 01 Maret 2015

Finally!!!

Aw...aw...aw... Akhirnya memutuskaan untuk kembali ngeblog setelah entah berapa abad blog terabaikan (lebaaaay). Maklum ya kesibukan sebagai ibu rumah tangga yang sok sibuk begitu menyita waktu... Tsaaah...

Bingung ya, sekarang mau ngeblog pake tema apa. Dulu waktu masih single kayaknya berapi-api banget ngomongin idealisme yang auk ah kemana sekarang. Hehehe... Eh, jangan salah... Jadi ibu rumah tangga itu tidak semudah yang saya pikirkan dulu lho... Iya, duluu.. Duluuuu banget saya dengan bodoh nya mikir kalo pekerjaan ibu rumah tangga itu "enggak banget" lah... Kasarnya mending suruh cari duit diluar deh dari pada suruh ngapalin mana lengkuas mana jahe. Ibu aja sampai hopeless nasehatin anaknya supaya lebih akrab sama dapur and sebangsanya... Tau yaa gimana yaa.. Maklum semangat masa muda masih menggebu-gebu... Huehehehe #ngelessss

Bener lho... Sekarang idealisme jadi pengusaha plus guru yang sukses, punya bimbel dan punya sekolah sendiri rasanya harus kepending dulu berganti dengan idealisme gimana caranya supaya cucian ga numpuk karena males nyuci, gimana cara cerdas ngurus anak tanpa stress and gimana caranya bikin suami rela memakan hasil masakan kita... Fiuuuh... Ternyata lebih sulit dari pada bikin kursusan saudara-saudara... #Lap keringet dulu...

Jadi inget dulu jaman kuliah si indun temen dikit bingit bilang,

"Nin, kalo jadi ibu-ibu punya anak jangan sampe muka kucel pake daster berkeliaran kemana-mana"

Daku dengan pedenya jawab,

"Enggak mungkin lah... Aku pasti tetep keren dong pake jeans kesayangan, blouse model terbaru n kerudung yang menclok sana sini"

Dan liat lah diriku sekarang... Huhuhuhu... Ini semua gara-gara kebanyakan nonton inpotemen yang isinya artis2 keren bawa anak yang mukenya kinclong2. Harapan terlalu tinggi saudara-saudara... Kenyataannya, bisa bedakan seminggu sekali aja udah syukur alhamdulillah...

Menjadi ibu memang ga mudah, ga ada sekolah nya, dan ga habis-habis masa belajarnya. Tapi itu semua worth it saat liat si krucil2 bobo dengan nyenyaknya, saat mereka senyum and meluk kita dengan sayang, saat ini itu yang gak bisa dijabarkan satu-satu.... Aaaarghhh... Saya merasa beruntung lhoooo...

Yak masalah penampilan tar kita rubah pelan-pelan ya... Hihihihi...

Senin, 11 Maret 2013

HORAYY!!!

Hayo, pasti lihat judul diatas pada nebak kenapa pake subject yang rada heboh?? Lagi happy??

ANDA BENAR!!

Saya lagi happy bin berbunga-bunga karena akhirnya dengan kebulatan tekad yang membara setelah berbulan-bulan diuji dengan materi-materi sepanas lumpur lapindo, saya berhasil mengalahkan kemalasan saya menulis di blog ini. #halaah.

Emang bener sih, gara-gara tadi iseng sama si onyon searching-searching nama diri sendiri di google *eits kamu juga pernah kan* and berusaha menelusuri tingkat kepopuleran masing-masing di dunia maya. Yah, dia sih menang tipis gara-gara ada mantannya n salah satu muridnya yang nyatut nama nya di blog si empunya.

Rada nyesek juga sih.. Woy?? Mantan-mantanku? Kemana kalian selama ini? Tidak adakah yang berusaha mengabadikanku lewat tulisan? Paling tidak membuatkanku sebaris puisi indah?? Hiks

Yah, emang ga bakalan ada sih. Berhubung yang berlabel mantan cuma seorang n yakin seribu persen dia ga bakal menyinggung saya di blog (yaiyalah orang dia ga punya blog -_-"). Dan habislah saya diledekin si onyon yang senyum-senyum mesum liat namanya sendiri di barisan mbah google. Tuh anak emank berlebihan mencintai diri sendiri. (►˛◄'!)

Dan ga papa lah... Karena nya saya jadi kangen ngeblog and eng ing eng.... Jadilah tulisan ngasal ini. Hehehe. Derita membawa nikmat..

Okelah. No problemo.
Sekian dulu deh. :p

*si onyon maksa saya nyatut namanya, tapi sorry dorry brury... Enggak lah yau... *kecuali dikasih si chanky... Hahay :D
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Senin, 30 Juli 2012

Untuk Kata

Aku membuka layar netbook ku yang sudah berdebu di pagi ini. Entah sudah berapa hari, atau bahkan minggu aku tidak menyentuhnya. Tidak ada alasan khusus tidak bersinggungan, seperti waktu yang menghimpit, atau netbook yang sakit. Hanya rasanya, aku merasa tidak ada alasan kuat untuk sekedar menyentuhnya, bahkan meliriknya pun enggan.

Ini bukan membahas tentang aku dan netbook ku. Bukan pula membahas aku yang berniat menceraikannya dan memilih yang baru. Aku ingin menyinggung sedikit tentang kemalasanku, keenggananku untuk Menulis. Argh, aku merasa seperti ada yang hilang ketika aku berhenti menuangkan pikiran. Bahkan di twitter pun rasanya hanya menulis status "saya ada disini.. Bla..bla..bla..." Bukan berupa ide, bukan berupa anak pikiran yang siap berbuah. Apa itu berarti aku telah berhenti berpikir? Berhenti mendalami akan sesuatu? Bukankah tulisan yang selama ini seolah membuatku "hidup"? Aku mulai prihatin dengan diriku sendiri.

Banyak peristiwa, banyak kejadian, banyak sekali hal yang telah terlewatkan dari pandangan. Aku menyadari di titik ini sekarang kalau kemandeg'an ku membuatku berhenti berproses. Aku juga meyakini, musibah ini terjadi karena aku sudah merasa puas dengan yang ku dapat sampai melupakan kekasih lama, buku. Wah, ternyata aku sudah terlalu sombong.

Maka, sekarang, di saksikan netbook ku yang masih membisu, ku teriakkan sumpah dalam hati untuk mengabdikan hidupku untuk kata. Untuk berproses, untuk selalu bermetamorfosis. Untuk selalu berdaya. Dengan mendayagunakan kata yang membuat nadi dan pikiranku tak lagi mati suri.

Hidup, dan menghidupi.
Rasa, dan merasai.

Untuk Kata...


Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Minggu, 17 Juni 2012

Merindu

Aku tersayat tiap jarum berdetak. Mengoyak asa yang mengharu biru menusuk kalbuku yang mulai beku. Dan sebelum detaknya menjadi penanda kehidupan yang telah mematikanku, aku tersungkur khidmat dalam alunan kidung syahdu yang melenakan. Yang membuka tabir-tabir kesadaran baru yang sebelumnya aku tutupi rapat-rapat. Getir aku merasakan akalku mulai berdistorsi seenaknya sendiri. Ah, biarlah... Dia melaju seenaknya. Karena hatiku sepertinya sudah putus urat dengan akalku. Maka biarlah, kukunci mati rinduku. Biar tetap kurasakan indah, mencintamu yang terindah.

Sabtu, 16 Juni 2012

Hujan di Langit Jakarta

Pagi ini begitu menakjubkan. Aku buka jendela kamar-ku yang berselimut kabut. Sangat mengherankan menemukan kabut di belantaran jakarta. Titik-titik embun bertengger pada dedaunan yang hijau. Udara segar menyergap-ku saat membuka pintu balkon. Tuhan sedang mengajak-ku bercanda. Bahkan aku bisa melihat semburat-semburat pelangi di langit jakarta yang cerah.

Air menghujani jakarta tadi malam. Banyak sekali yang aku dalami dari palung-palung dalam disituasi yang begitu biru. Aku menelisik setiap maksud hati. Tentang hidup, tentang mati, tentang sebuah nyawa dan proses melewatinya. Aku bertanya tentang alam yang mendukung setiap langkah-ku. Seakan lewatnya lah doa-doa ku dikabulkan. Aku mempertanyakan malam yang dengan kerelaan hati bersepakat dengan mendung. Mengorbankan pijar-pijar bintangnya tersembunyi dalam balutan kelam.

Hujan, membantu-ku juga mendinginkan hati ku. Memberi kesejukan yang tiada tara dalam sebuah kerinduan yang mistis. Aku harap, aku juga bisa menemukan hujan di saat kemarau sedang hinggap menusuk-nusuk setiap malam. Hujanku akan segera datang, bukankah begitu, sayang...
Dan pelanginya akan segera merona di wajah kita yang sedang terbius rindu...

Engkaulah hujanku....

Selasa, 05 Juni 2012

Distorsi Yakin


Ada seorang teman yang tiba-tiba bertanya, apa itu keyakinan? Bagaimana kah kita dikatakan yakin? Apakah wujudnya dan bagaimanakah membentuknya agar membuat sebuah pola dalam diri kita dan kita bisa menjiwainya?

Pertanyaan tersebut mungkin sebuah pertanyaan yang wajar di kehidupan kita yang segala maknanya semakin absurd. “Yakin”, seperti kata-kata lain yang bernasib sama, juga mengalami pendistorsian yang dimaksudkan agar tetap sejalan dengan cara pelaku medefinisikannya. Jika menyinggung kata itu, seakan jarring-jaring di akal kita langsung menangkap makna ‘agama’. Keyakinan adalah Agama. Agama kita didefinisikan seberapa besar keyakinan kita. Begitukah?? Bila benar demikian, maka pertanyaan selanjutnya adalah, “apa itu agama?”. 

Banyak dari kita yang menyebut bahwa agama adalah petunjuk hidup yang menyambungkan manusia dengan Tuhan. Agama adalah tata surya sekaligus berupa partikel ataupun molekul kecil. Agama mengejahwantai semesta. Agama di definisikan begitu suci dan megah. Maka ketika kita menyandingkannya dengan keyakinan, maka keyakinan menjadi sebuah barang mahal untuk diresapi. Dogma-dogma dalam sosial dan budaya kita meminta kita tunduk dan patuh terhadap sesuatu yang disebut agama. Tanpa boleh kita belajar meyakini dengan cara kita, dengan kedalaman proses berpikir kita, dengan perlahan-lahan perkembangan ilmu kita. Kita hanya boleh yakin dan percaya. Entah itu dengan cara melakukan yang di syari’atkan, ataupun melakukan yang disunnahkan. Hanya boleh dilakukan. Tanpa boleh banyak cingcong. Titik.

Jika akhirnya ada yang bertanya pada kita, apakah kamu yakin dengan agama-mu, maka kita dengan lantang-nya akan menjawab “Aku Yakin!!”. Tapi benarkah? Tidak bermaksud menyepelekan agamanya, yang digaris bawahi di sini adalah manusia-manusianya. Benarkah yakin? Benarkah percaya? Benarkah benar-benar mengimani? Atau kepercayaan dan keimanan kita tak ubahnya ibu dan bapak yang mengaku mewariskan darahnya ke kita. Hanya karena kita tinggal seatap, hanya karena kita dilimpahi kasih sayang, hanya karena kita mendapat pengakuan atas keberadaan kita, Dan kita sudah begitu yakin dengan asal-usul kita. Begitu piciknya kah sebuah keyakinan, yang jikalau begitu, begitu mudah kita merekayasanya?

Pada kenyataannya, keyakinan dalam bentuk apapun dibentuk dari sebuah keraguan. Tanpa adanya ragu tidaklah mungkin ada yakin. Bagaimana bisa kita percaya pada kenyang, jika kita tidak pernah merasa lapar? Tidak mungkin ada kotor, jika sebelumnya tidak ada bersih. Yakin, tidak serta merta tercipta. Begitupulah agama. Jika kita meyakini dan mempercayainya hanya karena proses pewarisan, maka sebenarnya yang kita yakini bukan Tuhan maupun agamanya, tapi pembawa warisanlah yang sudah kita yakini. Jadi masihkah mensabda sebagai orang yakin??

Yakin dibentuk oleh keragu-raguan yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Dari situlah kita akan memperoleh jawaban-jawaban yang mengukuhkan hati kita menjadi yakin. Maka kembali ke diri kita masing-masing, sudahkah kita meragukan tentang suatu yang begitu kita percayai? Dan dengan pikiran netral kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendalam hingga kita berproses dalam menemukan jawaban-jawabannya? Jika belum, kita perlu mempertanyakan lagi keyakinan kita. Jika sudah, terus-meneruslah bertanya dan mempertebal keyakinan. Karena sesungguhnya, yakin itu berdenyut. Dia hidup. Dan oleh karena itu, dia bisa pelan-pelan sekarat, dan mati. Dan dari kematiannya, akan lahir sebuah anak keyakinan baru. Sesungguhnya pertanyaan lahir dari sebuah akal yang diberikan Tuhan. Sesungguhnya, dari anjuran membaca saja, Tuhan ingin kita melalui proses pencarian yang akan membentuk keyakinan. Jadi sahabat, selamat beryakin-yakin! Karena Yakinmu, sesungguhnya adalah Bola Matamu.

Pare, 24 Mei 2012